30/03/2017

Kamar Mandi

Tadi pagi riuh sekali suara air yang mengalir dari pancuran air itu. Mungkin karena di luar belum ada aktivitas, orang-orang masih tidur, lorong itu betul-betul sunyi. Tapi juga tidak, setiap hari aku bangun di waktu dan keheningan yang sama, suara ribuan butir air yang berjatuhan itu terasa biasa saja. Lalu aku sikat gigi. Menyadari bahwa aku punya pola sendiri untuk menyikat gigiku, aku tersenyum. Bisa saja orang lain tidak memulainya dari gigi molar kiri bawah terlebih dahulu, atau tidak berkumur dengan air sebelum berangkat menyikat gigi. Dari uap air yang sejajar dengan pola warna hijau di dinding, aku membentuk dua orang wanita berambut panjang sedang berhadapan, lima detik kemudian mereka memandang ke arahku. Lima detik kemudian, mereka sudah tidak ada, pergi bersama air yang lain untuk berubah bentuk. Lantas pikiranku berterbangan tak tentu arah, selalu begitu di Kamar Mandi.

21/03/2017

Pojok Bicara volume 1

"Mau pakai jas hujan nggak neng?"

Aku merangkai cerita ini di perjalanan pulang dari kantor. Aku takut mati karena kilat.

"Maaf merepotkan ya, Pak."

Punggungku sakit, kurasa aku tidak perlu menorehkan tulisan yang tidak pernah kutulis ini.

"Tidak apa-apa, sudah kewajiban.", balasnya lirih.

Kau yang dengan sengaja dan tidak sengaja menggerakkanku untuk bercerita.

Aku malam hari adalah aku yang melankolis.

---------------------------------------------------------------------------------------

Dimanapun kalian berada, selamat malam dari Jakarta. Kemarin aku bertemu dengan sahabat penaku di sebuah sudut membaca sebuah restoran, sepi sekali. Warnanya buatku jatuh cinta berkali-kali di waktu yang sama. Pertemuan pertama kami begitu menarik hingga empat jam kurasa kami beradu mata sambil bercerita tanpa distraksi apapun. Dia bercerita banyak tentang betapa semangatnya terbakar-bakar akan cintanya terhadap musik dan bernyanyi. Menyimaknya seperti mendengarkan diriku sendiri. Aku rasakan apiku dan apinya menggebu-gebu saat berharap agar buku tidak boleh punah. Belum pernah kutemukan seseorang dengan suara yang hidup sekali sampai-sampai aku ingin menangis. Aku mengecap emosi dan rasa cinta yang melayang-layang di dalam getar vokalnya.

Kata Stef, percayalah ketika kamu mencintai sesuatu, sesuatu itu akan mencintaimu kembali. Alam semesta yang menyediakannya. Ia bercerita tentang inspirasinya yang bukan berasal dari orang kaya, bukan orang yang edukatif, bukan orang yang menelan suapan teori di kampus. Dia juga mengutarakan kalut hatinya bagaimana memiliki satu dari ribuan agama, akankah membuat Tuhan agama lain marah. Dia sering datang ke sudut itu sendiri hanya untuk minum teh, untuk mengobservasi dirinya. Kutinggalkan keakuanku dan kuantar diriku untuk menyisihkan waktu sebentar saja untuk mengapresiasi segala detil bangunan itu. Tanggung jawabnya besar sekali untuk selamanya jujur kepada sejarah dan menyampaikannya kepada penikmat-penikmat keindahan.

---------------------------------------------------------------------------------------
20/03/2017 01:36

Aku tak bisa tidur. Kutelaah ulang semua percakapan tadi walaupun sudah jelas dan sederhana sekali kau paparkan segala sesuatunya. Aku catat poin-poin yang akan terlupakan pagi hari nanti.

"Selepas membersihkan wajahku senja esok, aku harus ceritakan ini pada Stef."

Pojok itu bernilai lebih dari apapun yang sudah kualami bebrapa waktu terakhir. Di sinilah seharusnya aku berada bulan November yang lalu. Di sinilah seharusnya kita untuk masa yang akan datang. Untuk minggu-minggu kelam yang meresahkan.

18/02/2017

What Makes You Happy? #15

Warna-warni di sebelah kananku bekerja sesuai denyut jantungku. Jika rasa hatiku sedang senang, aku melihat wajah-wajah itu turut senang akan keberadaanku. Jika rasa hatiku sedang tidak kooperatif, ranting pohon, burung, dan kapal itu seolah menghardik dan mencemoohku, ingin pergi saja dari hadapanku. Sekarang aku jadi sedikit bangga melihat kemampuanku menyusun pola warna agar tak terlihat canggung. Aku tidak begitu mengerti apa yang kupikirkan saat otak kananku berkarya, seperti ada diriku yang lain.

Kemarin aku menonton film Split. Oh iya, aku lupa harus melaporkan padamu bahwa La La Land adalah yang terbaik. Terlampau banyak 'rasa' di dalamnya; bumbu kesukaanku. Split, juga meninggalkanku mabuk kepayang. Cakap sekali aksinya, kemasannya menarik. Terima kasih untuk teman-teman yang paham corak film yang wajib kutonton. Aku tidak ingat betapa psikopatnya aku.

Stef, tulisan terakhirmu ikut membahagiakanku.

Stef, aku tidak tahu pesanku saat itu buat kita jadi kental, intim seperti ini. Kupikir, ah, biarkan ini jadi motivasi agar aku tak lupa berterima kasih setiap hari. Aku sedang meneguk teh peppermint panas, entah untuk kali keberapa. Jari-jari dan mata membawaku kepadamu, hingga setiap tulisan nyaris bukan lagi bercerita tentang apa yang membuat kita bahagia, tetapi... sesederhana hanya bercerita. Aku yakin sekali kita berkata-kata dari batin, karena memang disini tempat kita mengantarkannya, bukan? Seperti yang kau tahu bagaimana teh bisa mendamaikan hari-hari yang kotor, aku menerima tawaranmu. Hari ini aku berterima kasih untukmu, dan aku.

05/02/2017

What Makes You Happy? #14

Dihirupnya uap panas dari teh peppermint di sebelah kirinya sambil membaca, bukankah ini pagi yang indah? Di depannya ada lukisan warna warni yang dibuatnya tiga tahun lalu. Lalu ada garis diagonal yang lebar dan terang lewat menyebranginya, cantik sekali. Sesekali ada burung dan awan lewat lalu gelap sebentar, sebentar, sebentar... lalu ia tidak datang lagi. Matahari tidak pernah berhenti menjadi dirinya sendiri. Lalu, bagaimana dengan bulan? Terus-terusan dicobanya untuk mencintai bulan, tapi tak pernah ditemukannya rasa cinta seluas cintanya pada matahari. Malam buatnya patah hati beberapa kali, tulisan-tulisan inilah yang menenangkannya.

Di kala badannya panas atau masa-masa sedih lewat tengah malam, dirasakannya dirinya mengecil - atau sekelilingnya membesar. Seperti melayang, tidak membayangkan apa-apa, dicicipinya saja rasa itu. Ia sedang berusaha untuk tak acuh pada sikap yang dilahirkan oleh insan kecintaannya. Kepingan salju itu tetap menetes, sedikit saja, tapi ia harus kuat. Tidak mau disia-siakan tenaganya lagi dan lagi. Sentuhan itu membantunya untuk istirahat, dan akhirnya ia terlelap hari itu.

Lucu ya, perbedaan waktu membuat orang merayakan pagi, sore, dan malam di saat yang sama, lengkap dengan semua elemen yang beterbangan di udara. Memandangi kehidupan individu-individu di sosial media setiap hari, kadangkala mejemukan.
"Hidupnya biasa sekali."
"Aku ingin cepat kaya."
Lesu rasanya berkata itu-itu saja di dalam kepala. Lalu, dia ingin pergi jauh sekali, berbicara dengan pohon dan buku, agaknya apakah mereka memenungkan hal yang sama. Saat kesendirian tak lagi memilukan, saat ketenangan tak lagi berteriak.

22/01/2017

What Makes You Happy? #13

Bogor, 16/10/15 1.09 PM

Tadi malam aku hampir menangis karena tidak bisa makan pecel lele itu. Padahal sambalnya enak sekali, percayalah. Aku hanya enggan keluar kamar, jalanan terlalu sibuk, buatku pusing saja. Sekarang sudah pukul dua pagi, tapi kepalaku penuh sekali. Padahal di waktu-waktu aku harus belajar, aku selalu mengeluh belum cukup tidur. Hmmm... Hari ini aku terlalu banyak mendengar lagu, terlalu banyak bernyanyi yang sedih-sedih. Jadi, lahirlah sedihku yang sekarang.

Bagaimana rupanya persahabatan itu? Aku memaksa hatiku untuk abaikan saja ini. Tapi mengapa kau tidak balas pertanyaanku? Aku hanya ingin tahu kabarmu, apa yang terjadi belakangan ini hingga buatmu tertekan seperti itu. Bukankah dulu kita dua orang yang tidak bisa membungkam? Tapi sepertinya, dalam beberapa tahun ini kau, aku, banyak berubah, ya. Terkadang semesta melihat kita bercerita dalam senyap, namun tak satu pun dari kita tahu itu.

Kau harus tahu betapa gembiranya aku saat lihat kau baru saja menulis dua hari yang lalu. Lalu setelahnya, ada sedih yang bahagia, karena di saat yang bersamaan aku merasa tidak sendirian. Seperti, kita sedang berada di mood yang sama. Mengapa ya, sedih itu terkadang nikmat, kau jatuh dalam sekali. Seperti judul lagu Love On the Brain -- kau merasakannya, tetapi dia ada di dalam pikiranmu. Sedih itu abstrak dan jalang, seringkali membunuhmu; tapi tidak buas. Bagaimana, ya, itu?

Ini untuk hari-hari dimana lara jadi bahagiaku, dan bahagiamu.

15/01/2017

What Makes You Happy? #12

(di toko buku)
S: Hei, lihat. Tempat ini luar biasa. Seperti memang dibuat untuk orang-orang seperti kita.

(berdua sambil menulis sesuatu di buku)
C: Kau tahu Mars Argo?
S: Ya!
C: Oh Tuhan, akhirnya aku menemukanmu. Jadi, dimana Titanic Sinclair mu, setelah semua ini?
S: Entahlah.. Aku ingat aku pernah sangat mencintainya.

(melamun menghadap langit)
S: Kau tahu, terkadang kita harus rasakan sedih.
C: Mengapa? Aku lelah terus bersedih, painful.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Aku pernah membayangkan skenario itu sebelum tidur. S untuk Stefany, dan C untukku. Aku bayangkan jika aku mengenalnya jauh sebelum ini, apa yang akan terjadi? Apakah kami sepemikiran seperti sekarang? Benak malam hari akan selalu liar, kalau tidak cepat-cepat ditulis, esok pagi kau tidak akan merasakannya lagi.

Sepulangnya dari workshop tadi, jariku ringan mengetik. Reyna dan Kezia menerbitkan buku "bicara besar". Asing sekali rasanya berkomunikasi dengan teman baru, melihat orang lain berani mengekspresikan dirinya di depan semua orang, dalam bentuk puisi. Mungkin aku terlalu sering berbahasa komputer, aku sudah tumpul sekali. Rindu mengasah otak kanan, dan terbayar malam ini. Untuk orang-orang hebat, untuk menerjemahkan pengalaman di bus tadi pagi ke dalam tulisan, untuk memvisualisasikan karya, untuk isi kepala yang abstrak, terima kasih.

Terakhir, entah tanggal berapa, aku meninggalkan tulisan ini di draf ku.

"Aku menghadapi sisi lain dari diriku beberapa waktu terakhir, yang sungguh menyulitkan."

Kalau dipikir-pikir, betapa buruknya statement itu, betapa buruknya diriku saat itu. Sekarang aku merasa jauh lebih baik.

16/10/2016

What Makes You Happy? #11

Aku lebih suka menuangkan isi kepalaku ke dalam tulisan, tahu bahwa aku sering merasa kesulitan saat hendak menjelaskan maksudku. Ada orang-orang yang mengerti tanpa aku harus bersusah payah memaparkannya, namun kurasa jumlahnya tak lebih dari lima, atau mungkin tiga. Bercerita tentang emosi, ah, sesungguhnya sederhana, tapi tidak mudah. Sayang sekali, topik-topik 'sulit' selalu menjadi favoritku, aku suka sekali berargumen, dan bukan merupakan kabar baik untuk sebagian orang di luar sana.

Lima menit sebelumnya aku sudah siap untuk istirahat karena besok aku harus bangun lebih awal. Tapi aku harus menanggapi tulisan sahabat pena ku di seberang sana. Aku benar-benar merasakan hal yang sama tentang hantu, Ci Stef. Persis. Akhirnya aku tahu aku tidak gila (atau setidaknya aku tidak gila sendirian). Tidak sekali dua kali aku membayangkan wanita itu berdiri di sudut ruangan, aku tahu betul warna bajunya, dimana saja terdapat bercak noda, dan perkiraan tingginya. Seusai bergumul dengan pikiranku yang sebelumnya sudah sangat lelah dibebani aktivitas, aku bisa tidur lewat pukul tiga.

"Matahari akan terbit sebentar lagi, hantu akan hancur jadi debu."

Aku sudah sembuh dari sakit, jiwaku juga sudah kembali segar. Aku punya hubungan benci dan senang dengan bepergian larut malam. Minum kopi, kontak fisik langsung dengan angin malam, dan menikmati pemandangan gedung-gedung besar. Hal-hal ini membuat pikiranku semakin tebal oleh emosi dan pertanyaan, yang sebenarnya bukan menjadi masalah buatku. Dan akhirnya pulang dengan keresahan, penuh penyesalan karena telah membuang waktu dan tenaga, karena seharusnya bisa dimanfaatkan dengan bijak.

Hari ini aku kenyang akan motivasi dan inspirasi. Aku menonton saluran TED seharian, melihat komunikator-komunikator luar biasa yang membuatku terus mengangguk setiap kali mereka mengutarakan poin yang menurutku tepat sasaran. Aku sangat merekomendasikan saluran ini bagi siapapun yang sedang dalam area abu-abu dan jauh dari inspirasi. Percayalah, kau akan keluar merasa lebih positif dari sebelumnya.

Aroma lilin ini sudah menempel di dinding-dinding kamarku. Saatnya tidur, selamat malam!

07/10/2016

What Makes You Happy? #10

I swear I can't find any.

----------------------------

She is not being cooperative with herself these last few weeks. It still feels cloudy; the sun doesn't peek through, but it's not raining anyway. It is something in between. She even thinks that she almost had a mental breakdown after she screamed to her pillow last night. It didn't last long but it was a very, very painful experience. She might be pissed off over annoying things in a daily basis, but never scream like so much in her life.

Her pillow is stained with mascara for crying over and over. Her throat hurts so bad that she made weird face while swallowing her drink. And then she stopped. The way she stared at nothing and thought about, oops she didn't even know what she was thinking about. She said that she wanted to take some pills to calm her down. She looked like... depressed over nothing. There is such a joy of being painful. What is this all about? It doesn't make any sense.

She feels sick physically and mentally, maybe. She doesn't value things the way she used to be. The word 'Smile' written on her mirror, doesn't urge her to smile anymore. The nightmare she had the previous night affects the entire day. She has this indescribable anxiety of things. And then someone said on her laptop screen, no one believes that your legs are broken if they look just fine. Her injury is invisible, and isn't easy to relate to.

----------------------------

Wow, here comes the orange juice. Let's go easy for a second.

08/09/2016

What Makes You Happy? #9

Percayalah, menulis menjadi begitu susah ketika kau tidak melakukannya selama tiga minggu lebih. Diiringi dengan kewajiban untuk menulis di situs organisasi yang sedang kau tempati jabatannya.

Tak terasa, satu gigi gerahamku sudah diangkat. Jahitannya sempat terlepas beberapa hari yang lalu, kurasa karena tertawa lepas yang tak terkontrol. Sering bertemu teman-teman yang bergelagat lucu, dengan inside jokes yang tidak semua orang pahami, dan kalimat sarkasme dengan tekanan kata-kata kasar yang entah bagaimana menggelitik, hari-hari yang sulit bukan? Terutama bagi seseorang dengan benang jahit di gusinya. Dan menyenangkan di saat yang bersamaan, sadar bahwa ternyata selama ini aku tertawa banyak sampai-sampai harus menahannya. Sadar bahwa aku diselimuti oleh orang-orang yang juga bahagia.

Di sebelahku ada lilin dengan aroma sesuatu, tidak pasti aroma apa. Di botolnya tertera tulisan 'A Child's Wish' sebagai penanda aromanya. Tidak eksak, seperti lavender, atau teh hijau. Mungkin memang seperti ini bau keinginan seorang anak, segar dan menenangkan. Aku membelinya di sebuah toko perlengkapan, harganya cukup mahal untuk sebuah lilin. Saat itu aku teringat Caca pernah membeli objek yang sama berwarna ungu, sambil menebak-nebak aroma manis yang diproduksi saat sumbu dibakar. Caca mengatakan bahwa ia sering membeli benda-benda yang tidak diperlukan, mahal, dan timbul rasa menyesal-atau-tidak setelah memilikinya.

Menarik saat melihat objek atau berada pada sebuah situasi membawa kita pada sebuah skenario yang terputar dalam pikiran.  Selalu ada kepingan kecil dalam ingatan yang seolah tidak berharga. Dan situasi akan membuatmu menghargainya. Mungkin berkaitan dengan keinginanku menjadi seorang aktris atau mungkin saja tidak, aku membayangkannya seperti pemutaran gambar dengan beberapa sudut pandang kamera yang sinematik. Membuatku ingin mengingat banyak hal lagi yang sudah terlewatkan!

Bisa kembali menggunakan waktu luang untuk berpikir seperti ini, rasanya positif sekali. Selamat malam, laptop.

17/08/2016

What Makes You Happy? #8

Akulah bahagia. Lima belas kali harus mencari apa yang membuatku bahagia? Diriku sendiri yang menciptakannya. Rasa syukurku akan hal-hal kecil di sekelilingku. Caraku menjadikan tragedi, gembira yang berkeliaran. Seperti menghargai hujan walau kau tak bisa keluar rumah. Ah, bagaimana aku menjelaskannya...

Ibuku meraih pencapaian tertinggi tahun ini. Seminggu yang lalu, ia menemukan dirinya mendapat empat buah kue ulang tahun, satu buket bunga, dan satu cokelat batangan. Sampai-sampai ia lupa kalau aku belum makan malam karena sudah kenyang makan kue. Harapanku agar aku bisa jadi penyabar seperti dia, punya hati selembut miliknya, punya telinga yang dengan tulus menyimak cerita sepulang sekolah anakku kelak.

Obrolan tengah malam bersama Sheiry sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, hanya saja jarang terjadi. Rasanya menyenangkan, namun juga gelap -- seperti pendapat Yenti tentang tulisanku. Aku senang kita masih melalui hari-hari yang aneh, seperti, menjadi tuna wisma untuk satu malam.

Oh ya, gigi geraham ketiga ku telah tiba. Teman ayahku bilang, "Gigi kedewasaan. Itu tandanya kamu sudah punya cara pikir yang bijaksana." Ada rasa girang mendengarnya, entah mengapa. Namun sayang sekali, dengan bijak juga aku harus memutuskan untuk menutup usianya. Dan akan mengaborsi pasangannya yang tidak akan tumbuh. Hampir semuanya berisiko mengganggu struktur gigiku. Tidak apa-apa, akan lebih baik jika peri gigi yang menjaganya.

Ci Stef tersayang, terima kasih untuk gairahmu dalam bernyanyi. Selamat atas konser yang sudah berjalan lancar!