30/09/2019

Sajak Cinta

Tak pakai suara, kau memelukku
Lebih erat lagi, lebih erat lagi
Tahu bahwa setelah fajar terbit, kita tak akan punya pertemuan lagi
"Kesal.", ujarmu lirih penuh lara
Aku hanya mendengar, kurasakan pelukmu semakin erat, dan cengkramanmu buat dadaku sesak
Dalam benak, aku berdialog banyak denganmu
Memberitakan bagaimana perasaanku terhadapmu
Bagaimana kau selalu buatku riang

"Aku peduli padamu, berbahagialah.", kataku sambil menahan tangis
Melepaskanmu, dan membiarkanmu pergi

25/08/2019

Kerdil

"Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.. Hari keempat tanpa kopi. Survive, kok.", katanya dalam hati, sore-sore pukul empat. Hari ini ia minum teh langka dan makan di restoran Cina bersama orang yang ia sayang. Baginya, kopi tak ada arti yang filosofis selain hanya untuk menahan kantuknya saat bekerja. Tapi, teh.. Ia hanya bisa menghela napas, tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.

Glodok tak pernah gagal menyita perhatiannya, menguras emosi dan perasaannya. "Toko-toko yang sudah usang dan gelap, masih beroperasi nggak, sih? Kalau iya, seperti apa wajah dan perilaku pengelolanya?", tanyanya lagi entah sudah kali keberapa. Ia menikmati perjalanan yang jauh di bawah terik, ya, karena lewat daerah Kota Tua.

Di pinggir jalan, banyak pelukis dan penjual cincin yang beralaskan tikar. "Aduh..", hatinya nyeri, kesal, tapi juga tenang. Menurutnya, tahun-tahun belakangan ini, sesama hanya peduli paras dan uang, padahal ia kerdil di Jakarta, di dunia. Lagi-lagi ia lupa, semua orang punya kehidupan sendiri-sendiri, sedalam-dalamnya. Namun, setiap malam ia hanya memohon bahagia untuk dirinya. Egois.

24/08/2019

Pojok Bicara volume 5

Nelangsa yang bersenandung

Sore-sore, Jakarta pulang ke rumah
Mengejar merdekanya, dan waktu istirahatnya
Pagi-pagi, riuh dikembalikan kepadanya, seganas-ganasnya, sepanas-panasnya
Siang-siang, Jakarta jadi yang paling maskulin
Lapar tak makan, lelah tak tidur
Saat petang menyambut malam, dilantunkannya lagu untuk kita, manusia, agar merayakan hari-hari yang bahagia, dan hari-hari paling menyedihkan dalam hidup

-

Tuhan

Dia berjalan bersama-sama denganku
Dia duduk di motor kursi penumpang dengan baju yang bertuliskan "TAKE A BREATH"
Dia ada dalam lirik Lagu Untuk Matahari, menarik ayat "Buktikan sekarang, angkat penamu tulis, bila gemar menulis.." yang kuulang-ulang tadi pagi
Dia hidup dalam orang-orang yang tak terduga, yang datang-datang hanya untuk mendoakanku
Dia adalah tulisan, yang menyuarakan, "Aku percaya Tuhan akan menuntunku."
Dia jadi suara renungan seorang sahabat, setiap hari, mengingatkan tentang tangan egois manusia

-

Rentetan Kasih Sayang

Begitu juga dengan cinta, sifatnya majemuk
Kau cinta pada ambisimu, hingga rela mengerahkan peluh dan pikirmu untuk mewujudkannya
Di lain hari, kau cinta pada ibumu, menangis di kuburnya dan membagikannya rindu dari pelupuk matamu
Lalu, kau cinta pada kesendirian, semampumu untuk menutup-nutupi sakit hatimu, menyulut rokok dan mati dalam sadarmu
Akhirnya, apa? Kau hanya peduli pada hari ini, merangkai visi untuk tahun-tahun ke depan
Esok hari, kau tidak sadar bahwa kemajemukan kasih sayang hadir, dan yang kau persoalkan,

Ya, hanya hari ini.

20/08/2019

Victoria

Aku sedang dalam perjalanan ke Victoria menggunakan pesawat tanpa atap
Di ketinggian entah berapa, lebih tinggi dari gunung dan awan
Langitnya gelap, tapi ada tarikan garis membentuk gradasi
Persis seperti pesawat.. ramai dan tertib, bukan jadi masalah buatku
Aku melihat matahari terbit, lebih besar dari yang kulihat kemarin-kemarin di daratan
Cantik..
Tahu bahwa kami, umat, kerdil di hadapannya
Lama pemandangan itu jadi sajian malam atau subuh perjalananku
Lalu ada ladang bunga, warna-warni, tidak ada jalan setapak, banyak pekerja yang bukan orang Asia
Gambarnya..
Temperaturnya dingin, tidak hangat seperti Indonesia, sungguh-sungguh kunikmati rasanya
Victoria, thank you for having me as your guest

Pojok Bicara volume 4

Semalam, di perjalanan pulang, aku lihat bulannya sempurna, besar, dan cantik. Aku bertanya-tanya tentang diriku, apakah aku bahagia and puas dengan apa yang aku lakukan? Sudah 2 minggu gelisah, malam-malam hanya mau menangis karena tak tahu tujuanku apa.

Kubilang pada Nanda, "aku merasa nggak punya harapan."

Tidak sedang berharap akan sesuatu, justru aku tidak punya, yang namanya harapan. Arahku jadi tidak jelas. aku nggak mau mewajarkan situasi ini, tapi senang bahwa aku sadar akan eksistensiku, tahu betul bahwa aku bosan, jijik membayangkan kerja di hari Senin, perlu berbuat sesuatu, tapi apa ya?

"Orang bilang, hanya Tuhan yang bisa isi kekosongan hatinya
Benarkah?"

Bagaimana seharusnya aku melantunkan doa, meminta harapan? Bagaimana caranya sifat egois manusia diiringi dengan berserah? Ah... manusia, merontokkan kepercayaannya terhadap segala yang penting dan baik buatnya, merasa kuat dan utuh berdiri diterpa badai, pada akhirnya hanya bisa bertanya "lalu aku harus apa?"

11/08/2019

Pojok Bicara volume 3

Di balik tulang dadanya itu, ruang hampa
Bahkan dirinya sendiri tak ada disana
Hanya ada bayangan - orang-orang terdekatnya, orang-orang yang ia kenal, orang-orang lewat saja
Hampanya tidak menenangkan, bikin gaduh, panik
Bunga tidur menjaganya saat fajar, memimpikan fajar juga, di pesawat tanpa atap
Tahun 2017 datang berkunjung lagi,
Sambil memaki, ia hanya ingin mati seribu kali lagi
Orang bilang, hanya Tuhan yang bisa isi kekosongan hatinya
Benarkah?
Dalam wujud apa rupanya Tuhan itu?
Sayang.. ia bodoh sekali menyikapi hidupnya.

14/05/2018

Pojok Bicara volume 2

(Last saved draft)

Aku puas dengan keputusanku memberikan sang hati dan raga waktu untuk beristirahat selama dua puluh empat jam. Dikerumuni sahabat dari yang sungguh-sungguh sanguinis, dan melankolis - tentunya sentimental, kata Reyna. Lalu, koleris-koleris yang aktif hingga seorang pasangan yang menurutku plagmatis.

Dari bulan Maret ingin kutulis segala sesuatunya, tentang semua pagi dan matahari yang memergokiku sedang berbicara sendiri dalam kepala.

----------

14 Mei 2018 01:12

Duh, kehidupan Jakarta menarik sekali buatku. Kadang terasa timpang, bagaimana gagasan tentang jalanan selalu lebih dalam daripada gaya hidup glamor orang-orang kaya. Beberapa waktu yang lalu ada pengerjaan trotoar dan dibuatkan bangku-bangku di atasnya. Pemandangan ini nyaris tak luput dari kacamata masyarakat; laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan sedang menikmati malam yang bahagia, atau tukang bubur yang mencari nafkah. Aku lewat -- semua orang sedang mengobrol, tertawa, atau hanya menunggu pengemudi ojek. Bayangkan saja, manusia bergerak pada zona waktunya masing-masing, berkicau tentang momen yang dialaminya sendiri, berpikir hanya dalam benaknya saja. Banyak sekali yang terjadi dalam satu waktu, namun mungkin hanya satu, atau dua, yang terjadi pada waktunya sendiri-sendiri.

Satu tahun tidak menulis, diksiku tidak meluas. Toh, aku hidup tidak di ruang sastra. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa mungkin seni bukan satu-satunya gairah yang tersulut. Belakangan, aku disentuh-sentuh oleh warna, bahasa, suara, tentunya ditemani oleh matahari dan teh -- atau kadang, malam. Seperti siuman dari tidur yang panjang, teringat cerita-cerita yang ingin sekali kutulis. Seperti bapak dengan kemeja pola kotak-kotak yang kuterka sebagai kepala proyek pembangunan apartemen yang kehadirannya selalu lahir pukul tujuh lewat sepuluh, atau bapak lain yang bersepeda setiap hari di dekat kantor, ya.. hal-hal yang jadi sorotanku setiap pagi. Rindu menulis, dan segala metafor yang menyedihkan. Namun tidak ada lagi yang rasanya nyata, selain itu.

Orang gila mana yang memutarkan lagu Banda Neira di toko buku. Bukan, bukan yang sedang tenar. Dan beberapa lagu setelahnya, terdengar suara khas vokalis band Payung Teduh. Di antara melodi yang bahagia dan makna yang menyayat, aku mencari buku sambil menggerus emosi yang langka. Kombinasi dari semua elemen ini menari-nari sangat lincah seolah mengolok-olok diriku, "Hai, mau lari kemana lagi?" Lalu aku menemukan diriku berada di depan rak dengan nama-nama sastrawan yang familiar; Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta Toer, Leila Chudori. Aku ingin tidur di sana saja, mati bersama aksara. Ya ampun, malam ini sulit sekali ya.. Pilu seorang melankolis datang lagi setelah absen berbulan-bulan lamanya. Ia menangkap debu-debu yang menyedihkan itu dan mengumpulkannya menjadi sebuah tulisan tengah malam.

30/03/2017

Kamar Mandi

Tadi pagi riuh sekali suara air yang mengalir dari pancuran air itu. Mungkin karena di luar belum ada aktivitas, orang-orang masih tidur, lorong itu betul-betul sunyi. Tapi juga tidak, setiap hari aku bangun di waktu dan keheningan yang sama, suara ribuan butir air yang berjatuhan itu terasa biasa saja. Lalu aku sikat gigi. Menyadari bahwa aku punya pola sendiri untuk menyikat gigiku, aku tersenyum. Bisa saja orang lain tidak memulainya dari gigi molar kiri bawah terlebih dahulu, atau tidak berkumur dengan air sebelum berangkat menyikat gigi. Dari uap air yang sejajar dengan pola warna hijau di dinding, aku membentuk dua orang wanita berambut panjang sedang berhadapan, lima detik kemudian mereka memandang ke arahku. Lima detik kemudian, mereka sudah tidak ada, pergi bersama air yang lain untuk berubah bentuk. Lantas pikiranku berterbangan tak tentu arah, selalu begitu di Kamar Mandi.

21/03/2017

Pojok Bicara volume 1

"Mau pakai jas hujan nggak neng?"

Aku merangkai cerita ini di perjalanan pulang dari kantor. Aku takut mati karena kilat.

"Maaf merepotkan ya, Pak."

Punggungku sakit, kurasa aku tidak perlu menorehkan tulisan yang tidak pernah kutulis ini.

"Tidak apa-apa, sudah kewajiban.", balasnya lirih.

Kau yang dengan sengaja dan tidak sengaja menggerakkanku untuk bercerita.

Aku malam hari adalah aku yang melankolis.

---------------------------------------------------------------------------------------

Dimanapun kalian berada, selamat malam dari Jakarta. Kemarin aku bertemu dengan sahabat penaku di sebuah sudut membaca sebuah restoran, sepi sekali. Warnanya buatku jatuh cinta berkali-kali di waktu yang sama. Pertemuan pertama kami begitu menarik hingga empat jam kurasa kami beradu mata sambil bercerita tanpa distraksi apapun. Dia bercerita banyak tentang betapa semangatnya terbakar-bakar akan cintanya terhadap musik dan bernyanyi. Menyimaknya seperti mendengarkan diriku sendiri. Aku rasakan apiku dan apinya menggebu-gebu saat berharap agar buku tidak boleh punah. Belum pernah kutemukan seseorang dengan suara yang hidup sekali sampai-sampai aku ingin menangis. Aku mengecap emosi dan rasa cinta yang melayang-layang di dalam getar vokalnya.

Kata Stef, percayalah ketika kamu mencintai sesuatu, sesuatu itu akan mencintaimu kembali. Alam semesta yang menyediakannya. Ia bercerita tentang inspirasinya yang bukan berasal dari orang kaya, bukan orang yang edukatif, bukan orang yang menelan suapan teori di kampus. Dia juga mengutarakan kalut hatinya bagaimana memiliki satu dari ribuan agama, akankah membuat Tuhan agama lain marah. Dia sering datang ke sudut itu sendiri hanya untuk minum teh, untuk mengobservasi dirinya. Kutinggalkan keakuanku dan kuantar diriku untuk menyisihkan waktu sebentar saja untuk mengapresiasi segala detil bangunan itu. Tanggung jawabnya besar sekali untuk selamanya jujur kepada sejarah dan menyampaikannya kepada penikmat-penikmat keindahan.

---------------------------------------------------------------------------------------
20/03/2017 01:36

Aku tak bisa tidur. Kutelaah ulang semua percakapan tadi walaupun sudah jelas dan sederhana sekali kau paparkan segala sesuatunya. Aku catat poin-poin yang akan terlupakan pagi hari nanti.

"Selepas membersihkan wajahku senja esok, aku harus ceritakan ini pada Stef."

Pojok itu bernilai lebih dari apapun yang sudah kualami bebrapa waktu terakhir. Di sinilah seharusnya aku berada bulan November yang lalu. Di sinilah seharusnya kita untuk masa yang akan datang. Untuk minggu-minggu kelam yang meresahkan.

18/02/2017

What Makes You Happy? #15

Warna-warni di sebelah kananku bekerja sesuai denyut jantungku. Jika rasa hatiku sedang senang, aku melihat wajah-wajah itu turut senang akan keberadaanku. Jika rasa hatiku sedang tidak kooperatif, ranting pohon, burung, dan kapal itu seolah menghardik dan mencemoohku, ingin pergi saja dari hadapanku. Sekarang aku jadi sedikit bangga melihat kemampuanku menyusun pola warna agar tak terlihat canggung. Aku tidak begitu mengerti apa yang kupikirkan saat otak kananku berkarya, seperti ada diriku yang lain.

Kemarin aku menonton film Split. Oh iya, aku lupa harus melaporkan padamu bahwa La La Land adalah yang terbaik. Terlampau banyak 'rasa' di dalamnya; bumbu kesukaanku. Split, juga meninggalkanku mabuk kepayang. Cakap sekali aksinya, kemasannya menarik. Terima kasih untuk teman-teman yang paham corak film yang wajib kutonton. Aku tidak ingat betapa psikopatnya aku.

Stef, tulisan terakhirmu ikut membahagiakanku.

Stef, aku tidak tahu pesanku saat itu buat kita jadi kental, intim seperti ini. Kupikir, ah, biarkan ini jadi motivasi agar aku tak lupa berterima kasih setiap hari. Aku sedang meneguk teh peppermint panas, entah untuk kali keberapa. Jari-jari dan mata membawaku kepadamu, hingga setiap tulisan nyaris bukan lagi bercerita tentang apa yang membuat kita bahagia, tetapi... sesederhana hanya bercerita. Aku yakin sekali kita berkata-kata dari batin, karena memang disini tempat kita mengantarkannya, bukan? Seperti yang kau tahu bagaimana teh bisa mendamaikan hari-hari yang kotor, aku menerima tawaranmu. Hari ini aku berterima kasih untukmu, dan aku.