26/08/2010

Who moved my cheese?

Pada tahun 2001 seorang teman membawa sebuah buku kecil, amat tipis yang hanya terdiri dari 94 halaman. Ketika aku membuka buku kecil ini, kesan awal yang muncul di benakku adalah bahwa buku ini ditulis sebagai bahan bacaan bagi anak-anak kecil. Namun anehnya, teman ini mengatakan bahwa buku tersebut merupakan satu dari antara ‘the best selling books of the year’. Terdorong oleh rasa ingin tahu yang menggebu, buku kecil ‘Who Moved My Cheese’ ini akhirnya terbaca juga. Dalam waktu tiga puluh menit buku kecil ini habis terbaca, namun saya pasti akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk mencerna isi buku kecil ini.

Spencer Johnson menulis buku ini dalam bentuk suatu parable, yang mengisahkan kehidupan dua ekor tikus, Sniff dan Scurry serta dua orang manusia kecil, Hem dan Haw yang sedang berjuang untuk menemukan keju buat mendukung hidup mereka. Sniff dan Scurry bergerak lebih cepat untuk keluar dari tempat persembunyian mereka yang aman, untuk menemukan daerah baru di mana terdapat persediaan keju yang cukup. Namun kedua manusia kecil, Hem dan Haw, agak ragu untuk meninggalkan tempat mereka yang aman untuk menemukan tempat baru. Menurut mereka, tempat mereka yang lama masih menyimpan cukup keju, dan karenanya mereka tak perlu harus mengambil resiko meninggalkan tempat yang mapan tersebut menuju tempat baru yang sama sekali belum diketahui.

Namun setelah beberapa waktu berlalu, keju yang ada sudah semakin kurang dan akhirnya habis. Kedua tikus sudah meninggalkan tempat itu bertualang menemukan tempat persediaan keju yang baru, dan mereka telah menemukannya. Kedua manusia kecil itu saling bertanya dan berdiskusi, ‘Manusia siapakah yang telah mencuri semua keju milik mereka tersebut?’ Sesungguhnya keju itu bukanlah milik mereka, namun karena telah lama mereka berada di sana, mereka menganggap tempat itu merupakan milik mereka sendiri.

Melihat situasi yang ada, Haw jadi paham bahwa mereka harus menerima tuntutan situasi serta memutuskan untuk memulai suatu pertualangan mencari tempat baru. Namun Hem temannya menolak, sambil mengharapkan bahwa orang yang membawa pergi keju-keju tersebut akan mengembalikannya.

Walaupun pada awalnya penuh keraguan untuk meninggalkan tempatnya yang mapan, Haw akhirnya bias bergerak dengan cepat dan pada akhirnya menemukan tempat baru yang berlimpah-ruah keju yang masih segar serta banyak variasinya. Haw merasa bahwa keputusannya untuk meninggalkan tempatnya yang lama adalah benar, dan ia merasa amat gembira atas keputusannya tersebut. Ternyata situasi kini berubah menjadi lebih baik dari pada yang pernah ia bayangkan semula, dan ini semua terjadi hanya karena ia bersedia untuk menerima serta beradaptasi terhadap setiap bentuk perubahan. Hem tak pernah bergerak meninggalkan tempatnya yang lama dan hanya menanti kedatangan kembali teman-temanya. Haw hanya bias berharap agar temannyapun bisa keluar meninggalkan tempat yang lama menuju tempat yang berlimpah keju tersebut. Namun Hem tidak hanya tak ingin keluar, ia bahkan menolak mencicipi keju yang dibawa Haw, sambil tetap menahan kerinduan akan masa lampaunya yang tak pernah kembali. Ia rindu mencicipi lagi keju yang hilang serta berharap agar orang yang mencuri kejunya mengembalikannya kepadanya.

=====================

Setiap saat saya (juga anda) berhadapan dengan seribu satu perubahan. Duniaku selalu berubah. Situasiku senantiasa berubah. Di bidang kehidupan spiritualpun ada banyak perubahan. Di saat duniaku berubah, aku akan selalu bertanya, apa yang harus saya perbuat?? Mengenakan sepatu olah raga dan memulai petualangan mencari arti baru, atau menutup pintu kamar dan menangisi kehilangan keju kesayanganku yang kini hilang?? Lalu, apa yang menjadi keju milikku?

Temanku, The most difficult thing to do in life is to begin, but I tell you, the most important thing to do in life is also to begin. Jangan takut memulai langkah pertama, karena setiap keberhasilan hanya mungkin terjadi bila anda telah memulai langkah pertama tersebut.

Cheers,
Jonas

No comments:

Post a Comment