09/11/2010

Tua adalah kepastian, dewasa adalah pilihan

Mari kita jabarkan...

1+1=100, atau bisa lebih. Seperti "teka-teki"; ada 7 burung di dahan, ditembak 2, berapa burung yang tinggal? Jawabannya tidak ada burung yang tinggal. Kenapa? 5 burung lainnya kabur. Jadi bisa disimpulkan kalo 7-2=0. Pertanyaan logika yang sebenarnya bukan teka-teki.

Begitu juga arti dewasa. Dewasa nggak cuma punya satu arti, tapi berbeda-beda masing-masing penanggapnya, beragam jawaban yang bisa kita dapat dari berbagai karakter manusia. Menurut saya, kedewasaan bisa diukur dari cara mengambil keputusan, cara berfikir, cara menanggapi sesuatu, bagaimana menyikapi suatu masalah, bagaimana belajar dari pengalaman masa lalu, dan berjiwa besar.

"Nggak merokok nggak cowok lo!" Aduh, anda sudah melebihi Yang Kuasa. Anda kah yang tiba-tiba mengubah kelaminnya menjadi perempuan jika tidak merokok? Dan dewasa tidak bisa dinilai dari hal-hal yang "gaul" seperti merokok, memakai narkotika, seks diluar nikah, gonta-ganti pasangan, dll. Malahan hal-hal yang seperti itu buat anda-anda sekalian menjadi sebaliknya, alias anak kecil.

Terinspirasi dari pertanyaan seorang teman, dan mencoba menggabungkan beberapa artikel tentang dewasa.

-----------------------------------------------------------------

Di atas 17 tahun?

Jangankan tujuh belas, usia empat puluh tahun pun tidak bisa menjamin kedewasaan seseorang.Pernikahan dan perceraian adalah suatu hal yang manusiawi, namun menjadi sebuah pertanyaan besar jika pernikahan segera diakhiri dengan perceraian hanya setelah beberapa bulan saja.Sudah jelas bahwa dalam pernikahan tersebut tidak ada kedewasaan dari salah satu atau kedua belah pihak.

Hal ini sering terjadi di masyarakat Barat, yang nampaknya sedang ditiru habis-habisan oleh masyarakat kita yang terkenal copycat, dengan kaum artis sebagai ujung tombaknya. Bulan Januari menikah, bulan April sudah ke pengadilan lagi. Maret bulan madu, bulan Agustus sudah tebar racun. Kaum pengacara nampaknya tidak merasa ada masalah dengan budaya kawin-cerai ini, bahkan cenderung menikmati.

Mereka yang melakukan hal ini sudah melampaui usia tujuh belas tahun sejak lama, dan secara fisik pun dengan mudah dapat kita simpulkan sebagai manusia ‘dewasa’. Sayang, kedewasaan secara fisik dan banyaknya pengalaman hidup tidak membuat mereka menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya.

-----------------------------------------------------------------

Mesum?

Jaman sekarang, film-film porno pun dihias dengan istilah “adult entertainment”. Di Indonesia, film-film yang mengandung unsur seks diberi label “untuk dewasa”. Maka, lagi-lagi, ukuran kedewasaan dihubung-hubungkan dengan seksualitas. Hanya saja pendekatannya berbeda dengan definisi yang pertama. Pada definisi yang ini, manusia dianggap dewasa kalau sudah berpikiran dan berbuat mesum. Luar biasa! Selamat datang liberalisme!

-----------------------------------------------------------------

Dalam hidup ini, entah disadari atau tidak sesungguhnya kita mengalami sebuah proses belajar yang panjang, sejak kita dilahirkan proses itu dimulai, kita menjadi murid, sedang proses itu sendiri menjadi guru. melewati masalah demi masalah, dilewati atau kadang terlewati. dari sekian banyak masalah itu timbul sebuah pengalaman berharga, setidaknya ada yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik itu pelajaran baik maupun pahit.

Ketika mengalami sebuah kegagalan pun sesungguhnya kita sedang ditempa untuk lebih berani dan berhati-hati menghadapi tantangan dan peluang. Keberanian dan kehati-hatian seperti gas dan rem pada sebuah mobil, jika tidak berimbang menggunakannya pasti terjadi ketidak harmonian.

-----------------------------------------------------------------

Sebenarnya seperti apakah bentuk sikap dewasa itu? Beberapa ahli mendefinisikan sikap dewasa sebagai berikut:
a. Pandai beradaptasi
b. Tepat dalam berkata
c. Berfikir sistematis/rasional
d. Pandai mengendalikan emosi (marah, malu, takut, dst)
e. Memiliki simpati dan empati

-----------------------------------------------------------------

Digambarkan dalam sebuah kisah, seorang olahragawan sedang ditepi jalan, ia melakukan sedikit peregangan dgn meluruskan tubuh dan tangannya bertumpu pada sebuah mobil, mobil itu berada pada tepian jurang. gerakannya seperti hendak mendorong mobil, padahal sesungguhnya ia hanya sedang melakukan gerak peregangan tubuh. Disisi lain, seorang pengendara melihat olahragawan tadi, ia berhenti dan turun dari mobil, lalu berdiri disisi olahragawan, kemudian mendorong mobil itu kuat-kuat. Mobil pun meluncur ketepi jurang.

Dari sisi sang supir, menurut pengamatan singkatnya dan pengalamannya, gerakan olahragawan itu adalah gerakan orang yg ingin mendorong mobil. dengan rasa empati yg dia punya, ia berusaha membantunya dgn ikut mendorong. Tiada yang salah dari 2 hal ini, tapi jika saja, supir ini berusaha lebih memahami apa yg tengah dikerjakan oleh olahragawan tadi, tentu kejadian itu tidak terjadi.

Kitapun seringkali terlibat masalah dgn orang lain, cekcok, bermusuhan, dls karena kita melihat masalah dari satu sisi saja, tidak berusaha melihat dari sisi lawan kita, bahkan kadang tidak mau tau dgn kondisinya.

Justru kita semakin dewasa manakala kita berusaha memahami, mempelajari, dan mengerti apa yg menjadi persoalan orang lain, memandang persoalan dari sisinya, bukan dari sisi kita, yang sering kali menyebabkan penilaian yang subjektif.

Pada akhirnya, jika kita mampu menyelami perasaan orang lain, memahami nya. Hampir dipastikan masalah dapat di eliminir, dapat di minimalisir dan hidup pun menjadi lebih indah.

-----------------------------------------------------------------

To be continued...

No comments:

Post a Comment