09/11/2010

Tua adalah kepastian, dewasa adalah pilihan part 2

Sebuah teori lain dari sebuah artikel, unik!

***

Menjadi Tua Itu Pasti, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan.
Kalimat pendek, but deep emphasize.

Menjadi dewasa..? Sebagian ada yang menyatakan sulit menjadi dewasa, sebagian lagi mengatakan definisi dewasa itu berbeda-beda, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Di atas itu semua, satu hal yang pasti, (menurut saya) menjadi dewasa itu suatu keharusan.

Mengapa? Karena hidup yang sedang kita jalani ini adalah amanah dari-Nya. Setiap tarikan nafas adalah titipan dari-Nya. Kenyataannya, banyak sekali masalah yang tidak dapat diselesaikan ‘tanpa kedewasaan sikap’, seperti banyak sekali masalah yang bisa timbul dari ‘ketidakdewasaan’, padahal, hidup yang kita jalani ini haruslah dapat memberi makna.

Terkait dengan hal ini, berikut satu catatan menarik tentang ‘kedewasaan’. Saya salin bebas dari Talkshow Interaktif : Friday Spirit di Ramako 105.8 FM oleh Arvan Pradiansyah, Jum’at 7 Februari 2008 pukul 07.00-08.00 WIB. Semoga tidak ada substansi yang berubah..

***

Mengambil tema seperti tertulis pada judul di atas, Arvan Pradiansyah mengemukakan 5 hal yang menjadi ciri yang membedakan orang ‘dewasa’ dan ‘tidak dewasa’.

Sebelumnya Arvan mengungkapkan bahwa, kedewasaan tidak terkait sama sekali dengan masalah umur. Meskipun sering terdengar ungkapan: orang tua lebih bijak, atau orang muda lebih enerjik.

Dan 5 hal tersebut adalah..

Pertama, orang dewasa lebih melihat ke dalam (lebih dahulu), ketika ‘anak kecil’ lebih sering mengacu pada sesuatu di luar dirinya.

Contoh mudahnya, ketika dihadapkan pada pertanyaan berikut, apa jawaban kita: Telat masuk kantor, siapa yang salah? Siapapun bisa menjawab dengan mudah: macet, ketika pilihan jawaban lain juga tersedia. Dengan mengambil tanggung jawab pribadi Anda bisa memilih untuk mengatakan: Saya tahu Jakarta macet, maka saya harus berangkat lebih pagi untuk dapat sampai di kantor tepat waktu.

Orang dewasa mengambil tanggung jawab pribadi, ketika anak kecil mencari-cari kambing hitam atas kesulitan yang menimpanya.

Kedua, orang dewasa selalu memberi manfaat pada orang lain, ketika anak kecil selalu ingin mengambil manfaat (meminta hak) dari orang lain.

Ilustrasinya, ketika seseorang telah berkerja dengan baik, maka dipromosikan adalah sebuah konsekwensi. Ingat bahwa, tidak ada orang yang ‘berhak’ untuk dipromosikan, yang ada adalah orang yang ‘pantas’ untuk dipromosikan. Dan yang sering kita temui, orang lebih banyak menuntut haknya, alih-alih menunjukkan kinerja yang dengannya pemenuhan hak itu menjadi suatu konsekwensi yang dapat ia terima.

Ketiga, orang dewasa memiliki pengendalian diri -sense of control- yang besar, sementara anak kecil lebih banyak dikendalikan orang lain (rangsangan luar).

Pengendalian diri yang besar, ciri praktisnya dapat ditandai dengan adanya jarak antara stimulus dan respon. Ada proses mawas diri, melihat ke dalam dan kepada persoalannya, sebelum memberikan respon atas sesuatu.

Keempat, orang dewasa siap kalah (mengalah), sementara anak kecil selalu ingin menang dan tidak siap kalah.

Kelima, orang dewasa bisa membedakan masalah dengan orangnya, sementara anak kecil berlaku sebaliknya.

Just look behind..

***

Semoga bermanfaat, readers!

No comments:

Post a Comment