02/06/2016

What Makes You Happy? #2

Beberapa waktu belakangan tentu bukan hari-hari favoritku. Dikejar-kejar deadline, yang sebenarnya berakar dari kesalahanku sendiri. Mengembalikan kesabaran yang dulunya bisa kukuasai. Aku selalu ingat bahwa Tuhan takkan pernah memberi pekerjaan diluar batas kemampuan kita. Toh, perlahan-lahan semuanya terselesaikan dengan baik.

Aku menata ulang hidupku yang sempat kuhancurkan akhir-akhir ini. Sabtu kemarin aku pergi, tidak sendirian. Aku pikir, sudah cukup aku mengurung diri dan mengeluh dalam diam, tidak ada gunanya. Beberapa orang menemaniku - atau, aku yang menemani mereka - tidak masalah, yang penting aku kembali berinteraksi sebagaimana mestinya. Bukan formalitas, tapi memang kemauanku. Kami minum beberapa teguk bir malamnya, yang mana sesungguhnya bukan favoritku, tapi saat itu aku menikmatinya.

Aku tertawa banyak hari Sabtu dan Minggu, sudah lama tidak kulakukan. Yah, minimal aku sudah tidak begitu pusing dengan rutinitas tugas ini.

Tadi listrik mati, laptop dan ponsel ku kehabisan baterai, hari mulai sore. Tapi masih ada sedikit cahaya dari jendela kamarku. Aku mulai membaca buku Ajahn Brahm yang kurasa sudah berminggu-minggu kuletakkan di samping kasur. Seperti buku cerita, dan aku menyukainya. Ada selipan lelucon dan aku bisa tertawa karenanya, aku pernah bertemu Ajahn Brahm in person.

Katanya, saya tidak mampu lagi membedakan antara kebahagiaan orang dan kebahagiaan saya sendiri. Itulah sebabnya saya bepergian melayani sebanyak mungkin, menceritakan kisah konyol, untuk membuat orang tertawa...


"Belajarlah untuk hening,
dan engkau akan mengetahui,
dirimu telah terlalu banyak bicara."

-Pepatah Tiongkok Kuno

1 comment: