17/08/2016

What Makes You Happy? #8

Akulah bahagia. Lima belas kali harus mencari apa yang membuatku bahagia? Diriku sendiri yang menciptakannya. Rasa syukurku akan hal-hal kecil di sekelilingku. Caraku menjadikan tragedi, gembira yang berkeliaran. Seperti menghargai hujan walau kau tak bisa keluar rumah. Ah, bagaimana aku menjelaskannya...

Ibuku meraih pencapaian tertinggi tahun ini. Seminggu yang lalu, ia menemukan dirinya mendapat empat buah kue ulang tahun, satu buket bunga, dan satu cokelat batangan. Sampai-sampai ia lupa kalau aku belum makan malam karena sudah kenyang makan kue. Harapanku agar aku bisa jadi penyabar seperti dia, punya hati selembut miliknya, punya telinga yang dengan tulus menyimak cerita sepulang sekolah anakku kelak.

Obrolan tengah malam bersama Sheiry sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, hanya saja jarang terjadi. Rasanya menyenangkan, namun juga gelap -- seperti pendapat Yenti tentang tulisanku. Aku senang kita masih melalui hari-hari yang aneh, seperti, menjadi tuna wisma untuk satu malam.

Oh ya, gigi geraham ketiga ku telah tiba. Teman ayahku bilang, "Gigi kedewasaan. Itu tandanya kamu sudah punya cara pikir yang bijaksana." Ada rasa girang mendengarnya, entah mengapa. Namun sayang sekali, dengan bijak juga aku harus memutuskan untuk menutup usianya. Dan akan mengaborsi pasangannya yang tidak akan tumbuh. Hampir semuanya berisiko mengganggu struktur gigiku. Tidak apa-apa, akan lebih baik jika peri gigi yang menjaganya.

Ci Stef tersayang, terima kasih untuk gairahmu dalam bernyanyi. Selamat atas konser yang sudah berjalan lancar!

3 comments: