22/01/2017

What Makes You Happy? #13

Bogor, 16/10/15 1.09 PM

Tadi malam aku hampir menangis karena tidak bisa makan pecel lele itu. Padahal sambalnya enak sekali, percayalah. Aku hanya enggan keluar kamar, jalanan terlalu sibuk, buatku pusing saja. Sekarang sudah pukul dua pagi, tapi kepalaku penuh sekali. Padahal di waktu-waktu aku harus belajar, aku selalu mengeluh belum cukup tidur. Hmmm... Hari ini aku terlalu banyak mendengar lagu, terlalu banyak bernyanyi yang sedih-sedih. Jadi, lahirlah sedihku yang sekarang.

Bagaimana rupanya persahabatan itu? Aku memaksa hatiku untuk abaikan saja ini. Tapi mengapa kau tidak balas pertanyaanku? Aku hanya ingin tahu kabarmu, apa yang terjadi belakangan ini hingga buatmu tertekan seperti itu. Bukankah dulu kita dua orang yang tidak bisa membungkam? Tapi sepertinya, dalam beberapa tahun ini kau, aku, banyak berubah, ya. Terkadang semesta melihat kita bercerita dalam senyap, namun tak satu pun dari kita tahu itu.

Kau harus tahu betapa gembiranya aku saat lihat kau baru saja menulis dua hari yang lalu. Lalu setelahnya, ada sedih yang bahagia, karena di saat yang bersamaan aku merasa tidak sendirian. Seperti, kita sedang berada di mood yang sama. Mengapa ya, sedih itu terkadang nikmat, kau jatuh dalam sekali. Seperti judul lagu Love On the Brain -- kau merasakannya, tetapi dia ada di dalam pikiranmu. Sedih itu abstrak dan jalang, seringkali membunuhmu; tapi tidak buas. Bagaimana, ya, itu?

Ini untuk hari-hari dimana lara jadi bahagiaku, dan bahagiamu.

No comments:

Post a Comment