05/02/2017

What Makes You Happy? #14

Dihirupnya uap panas dari teh peppermint di sebelah kirinya sambil membaca, bukankah ini pagi yang indah? Di depannya ada lukisan warna warni yang dibuatnya tiga tahun lalu. Lalu ada garis diagonal yang lebar dan terang lewat menyebranginya, cantik sekali. Sesekali ada burung dan awan lewat lalu gelap sebentar, sebentar, sebentar... lalu ia tidak datang lagi. Matahari tidak pernah berhenti menjadi dirinya sendiri. Lalu, bagaimana dengan bulan? Terus-terusan dicobanya untuk mencintai bulan, tapi tak pernah ditemukannya rasa cinta seluas cintanya pada matahari. Malam buatnya patah hati beberapa kali, tulisan-tulisan inilah yang menenangkannya.

Di kala badannya panas atau masa-masa sedih lewat tengah malam, dirasakannya dirinya mengecil - atau sekelilingnya membesar. Seperti melayang, tidak membayangkan apa-apa, dicicipinya saja rasa itu. Ia sedang berusaha untuk tak acuh pada sikap yang dilahirkan oleh insan kecintaannya. Kepingan salju itu tetap menetes, sedikit saja, tapi ia harus kuat. Tidak mau disia-siakan tenaganya lagi dan lagi. Sentuhan itu membantunya untuk istirahat, dan akhirnya ia terlelap hari itu.

Lucu ya, perbedaan waktu membuat orang merayakan pagi, sore, dan malam di saat yang sama, lengkap dengan semua elemen yang beterbangan di udara. Memandangi kehidupan individu-individu di sosial media setiap hari, kadangkala mejemukan.
"Hidupnya biasa sekali."
"Aku ingin cepat kaya."
Lesu rasanya berkata itu-itu saja di dalam kepala. Lalu, dia ingin pergi jauh sekali, berbicara dengan pohon dan buku, agaknya apakah mereka memenungkan hal yang sama. Saat kesendirian tak lagi memilukan, saat ketenangan tak lagi berteriak.

No comments:

Post a Comment