21/03/2017

Pojok Bicara volume 1

"Mau pakai jas hujan nggak neng?"

Aku merangkai cerita ini di perjalanan pulang dari kantor. Aku takut mati karena kilat.

"Maaf merepotkan ya, Pak."

Punggungku sakit, kurasa aku tidak perlu menorehkan tulisan yang tidak pernah kutulis ini.

"Tidak apa-apa, sudah kewajiban.", balasnya lirih.

Kau yang dengan sengaja dan tidak sengaja menggerakkanku untuk bercerita.

Aku malam hari adalah aku yang melankolis.

---------------------------------------------------------------------------------------

Dimanapun kalian berada, selamat malam dari Jakarta. Kemarin aku bertemu dengan sahabat penaku di sebuah sudut membaca sebuah restoran, sepi sekali. Warnanya buatku jatuh cinta berkali-kali di waktu yang sama. Pertemuan pertama kami begitu menarik hingga empat jam kurasa kami beradu mata sambil bercerita tanpa distraksi apapun. Dia bercerita banyak tentang betapa semangatnya terbakar-bakar akan cintanya terhadap musik dan bernyanyi. Menyimaknya seperti mendengarkan diriku sendiri. Aku rasakan apiku dan apinya menggebu-gebu saat berharap agar buku tidak boleh punah. Belum pernah kutemukan seseorang dengan suara yang hidup sekali sampai-sampai aku ingin menangis. Aku mengecap emosi dan rasa cinta yang melayang-layang di dalam getar vokalnya.

Kata Stef, percayalah ketika kamu mencintai sesuatu, sesuatu itu akan mencintaimu kembali. Alam semesta yang menyediakannya. Ia bercerita tentang inspirasinya yang bukan berasal dari orang kaya, bukan orang yang edukatif, bukan orang yang menelan suapan teori di kampus. Dia juga mengutarakan kalut hatinya bagaimana memiliki satu dari ribuan agama, akankah membuat Tuhan agama lain marah. Dia sering datang ke sudut itu sendiri hanya untuk minum teh, untuk mengobservasi dirinya. Kutinggalkan keakuanku dan kuantar diriku untuk menyisihkan waktu sebentar saja untuk mengapresiasi segala detil bangunan itu. Tanggung jawabnya besar sekali untuk selamanya jujur kepada sejarah dan menyampaikannya kepada penikmat-penikmat keindahan.

---------------------------------------------------------------------------------------
20/03/2017 01:36

Aku tak bisa tidur. Kutelaah ulang semua percakapan tadi walaupun sudah jelas dan sederhana sekali kau paparkan segala sesuatunya. Aku catat poin-poin yang akan terlupakan pagi hari nanti.

"Selepas membersihkan wajahku senja esok, aku harus ceritakan ini pada Stef."

Pojok itu bernilai lebih dari apapun yang sudah kualami bebrapa waktu terakhir. Di sinilah seharusnya aku berada bulan November yang lalu. Di sinilah seharusnya kita untuk masa yang akan datang. Untuk minggu-minggu kelam yang meresahkan.

No comments:

Post a Comment